Amalgamasi Esensialitas Hijrah dan Masjid dalam Ramadhan

Oleh: Auliya Ridwan

Masjid, dalam pemahaman secara umum, merupakan rumah ibadah bagi kaum muslimin. Dalam bingkai studi-studi Islam, masjid tak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah, namun juga berfungsi sebagai pusat kegiatan kaum muslimin. Pernyataan ini didukung oleh fakta-fakta sosial maupun sejarah yang menunjukkan bahwa masjid juga memiliki fungsi yang lain, misalnya sebagai pusat pendidikan. Dalam sebuah kata pengantar “The Mosque The Heart of Submission”, William C. Chittick menyatakan bahwa tidak ada sebuah sistem “keimaman” (priesthood) dalam sebuah masjid, juga tidak ada celah institusionalisasi masjid dibawah sebuah official hierarchy. Dengan kata lain, setiap individu muslim adalah seorang imam bagi dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas segala kewajiban religius pada masjid itu sendiri. Berbagai diskursus akan selalu berkembang dari wacana ini. Sudah barang pasti bahwa al-Qur’ān al-Karīm telah menyatakan bahwa Allah SWT menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi (al-Qur’ān, 2:30). Kekhalifahan manusia di muka bumi dapat kita lihat melalui kepemimpinan manusia dan hubungannya dengan masjid. Dalam sejarah perjuangan Rasulullah SAW, masjid memiliki arti penting dalam tonggak sejarah hijrah. Masjid tak sekedar memiliki simbolisme sejarah akan sebuah era baru kepemimpinan nabi, namun juga masjid memiliki arti penting dalam mempersatukan ummat. Hal ini mengandung hikmah yang dapat dijadikan pelajaran bagi perjalanan bangsa Indonesia di Ramadhan mendatang.

Dalam perjalananan hijrah nabi, beliau mendirikan masjid pertama di Quba. Inilah masjid yang batu batanya diusung sendiri oleh nabi. Dalam kacamata sosial, tindakan nabi ini menunjukkan keteladanan dan kesederhanaan beliau. Meskipun beliau seorang pemimpin, beliau tak enggan turun tangan ikut mengerjakan pekerjaan berat. Inilah semangat kepemimpinan kolegial yang ditunjukkan oleh nabi saat bekerja untuk agamanya. Di sisi yang lain, masjid ini disebut sebagai masjid yang didirikan atas dasar takwa (al-Qur’ān, 9:108).

Marshall G. S. Hudgson dalam “The Venture of Islam” menyatakan bahwa Hijrahnya nabi ke Madinah bukanlah semata-mata pelarian atas kedudukan beliau yang tak dapat dipertahankan di Mekah, melainkan hijrah ini merupakan sebuah peluang luar biasa untuk membangun sebuah tatanan kehidupan sosial yang baru seperti yang dituntutkan oleh risalah yang dibawanya. Di Madinah, nabi berdiri diantara dua suku, Aws dan Khazraj, yang sedang berada dalam perseteruan. Risalah nabi dipandang oleh mereka tak hanya sekedar sebagai sistem pemujaan monoteistik, tetapi juga sebuah ajaran yang mempu membawa warna netral bagi seorang pemimpin dalam menengahi konflik-konflik yang terjadi. Dalam bingkai yang sederhana ini, dapat diambil hikmah bahwa kepemimpinan yang netral dan mengapresiasi perbedaan yang ada merupakan sebuah cara ampuh untuk menyatukan golongan-golongan yang berbeda. Selanjutnya, risalah nabi yang berisi tentang moralitas dapat dengan mudah diterima oleh mereka. Hal inilah, pembentukan moralitas publik secara dogmatis, yang berperan dalam menjaga kedamaian yang telah terbentuk. Dengan kata lain, pembentukan moralitas yang suci tidak sekedar berfungsi sebagai alat resolusi konflik, tetapi juga sebagai alat pemelihara kedamaian.

Islam, sebagai agama monoteistik, dan kepemimpinan nabi yang netral membuat Islam mampu berdiri diantara para pemeluknya yang sangat heterogen di muka bumi. Peranan nabi telah mengantarkan risalahnya untuk mengendalikan kekuatan sejarah dunia. Kekuatan peranan nabi tersebut tak bisa lepas dari subtansi-substansi kepemimpinannya yang jujur serta membawa pertanggungjawaban moral pribadi dalam ajarannya. Apa yang disampaikan oleh nabi tidak hanya dilakukan oleh para pengikutnya, tetapi juga oleh nabi itu sendiri.

Corak kepemimpinan nabi itulah yang dapat memberikan secercah jalan terang guna melakukan transformasi sosial masyarakat melalui masjid. Bangsa ini telah dijangkiti, meminjam Masdar Hilmy, sindrom kebusukan dimana segala kerusakan telah dipertontonkan secara telanjang tanpa malu. Jika pada bulan Ramadhan ini masjid banyak dipenuhi oleh orang-orang yang bertujuan untuk meningkatkan ibadah, maka ini dapat dibaca sebagai momentum kekuatan transformasi masyarakat dalam menyembuhkan segala sindrom kebusukan yang ada. sudah barang jelas bahwa setiap muslim adalah pemimpin (baca: imam) setidaknya bagi dirinya pribadi dan ia bertanggung jawab atas segala tanggung jawab ibadah di masjid (baca: ibadah horisontal maupun vertikal). Dalam tanggung jawab ini, masjid akan memiliki sebuah nilai kekuatan transformasi masyarakat bila setiap muslim yang ada di dalamnya telah memiliki substansi kejujuran dan pertanggungjawaban moral terhadap apa yang telah dipelajarinya.

Masyarakat dapat melakukan perubahan sosial dari masjid melalui beberapa pemaknaan tentang masjid itu sendiri. Masjid dapat dimaknai tidak sekedar sebagai sebuah tempat untuk melakukan ibadah-ibadah ritual belaka, tetapi juga ibadah secara horisontal (kepada sesama manusia). Ibadah vertikal memberikan muatan kepada peribadatnya “hidayah” dari sang Khaliq. Namun, mengapa tidak semua orang mengalami pengalaman-pengalaman batin (baca: hidayah) tersebut? Tentu saja jika kita percaya bahwa janji-janji Allah itu benar dalam setiap ayat di kitab suci-Nya, kita sendiri harus bersabar untuk menjalankan apa yang telah diwahyukan-Nya. Pada akhirnya, Ia sendirilah yang akan menjawab janji-janji-Nya (al-Qur’ān, 6:134). Inilah barangkali salah satu bentuk hijrah yang dapat menjadi alternatif kita sekalian dalam membentuk perubahan pada diri kita sendiri. Dengan semakin mendekatkan diri pada Sang Khaliq, seorang individu muslim akan semakin menyadari betapa ia memiliki tanggung jawab moral terhadap ajaran agama yang ia anut. Salah satu tanggung jawab moral tersebut adalah kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya. Tanggung jawab ini dapat berupa banyak hal, diantaranya adalah kepekaan sosialnya. Masjid yang dapat pula menjadi pusat aktivitas sosial kaum muslimin tentunya tidak akan berfungsi sebagai pusat sosial itu sendiri manakala tidak ada kepekaan sosial antara sesama muslim di dalamnya. Kepedulian antar kaum muslimin itulah yang di era ini sangat dibutuhkan dan masjid adalah tempat paling potensial untuk memulainya. Semoga Ramadhan yang tinggal beberapa waktu lagi kita temui ini membawa barokah bagi perjalanan hidup kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: